Kamis, 13 Maret 2014

Let Come and Let Go

Begitulah hidup, diwarnai dengan pertemuan dan perpisahan. Masih terasa ketika kemarin  begitu dekat dan riuh rendah saling menyapa, dan tiba-tiba menghilang pergi dan hanya menghadirkan sepi. Memahami hidup berarti memahami bahwa tak pernah ada yang abadi di dunia ini. 

Memahami sepi, memahami sebuah perpisahan dan pertemuan, menikmati setiap detik yang diberikan oleh kehidupan dengan penuh penerimaan, memahami bahwa manusia benar-benar hanyalah pelaku kehidupan bukanlah pencipta kehidupan ini, akan membawa kita pada satu titik ketenangan dan kedamaian. 

Semua hadir dengan tujuan, dengan pemahaman akan hakikat kehidupan maka semua hanya perlu diterima dengan biasa saja. Adalah indah ketika ada yang diajak bercengkerama dan membagi rasa setiap saat, namun adalah indah pula ketika semua pergi dan tinggalah kita sendiri, karena disitulah kita bisa terdiam, hening, mendengarkan dan mensyukuri setiap helaan nafas, berbahagia atas setiap degupan jantung. Karena sesungguhnya dalam sendiri dan sunyi itulah saatnya kita memiliki kesempatan untuk berbincang-bincang dan mengenal diri kita sendiri. Tak jarang dalam diam pula kita akan mampu menangkap ilham melalui mata hati.

Seorang Guru mengatakan, ketika kita mampu melepaskan diri dari dualitas dalam kehidupan, disitulah kita menemukan kesejatian. Mari rayakan semua dengan bahagia, karena dari pertemuanlah maka ada perpisahan, dan dari perpisahanlah maka akan ada pertemuan yang lain. Sikapi apapun yang hadir dalam kehidupan ini dengan penuh penerimaan, maka damai pun akan bersemayam.

Terimakasih kepada yang telah datang, dan terimakasih kepada yang pergi, biarlah cinta terus menyertai kita semua apa adanya kita. Salamku. 

Sabtu, 08 Maret 2014

Mengeja Dirimu

Hingga penghujung hari telah usai, dan berganti dengan lembar hari selanjutnya aku masih memunguti keping keping peristiwa yang memuat segala gambarmu. Tak ada lelah yang menghampiriku, aku terlalu berbahagia. 

Saat itu kau ada di depan mataku, hanya berjarak sehasta namun aku tak melihatmu. Kabut peristiwa menutup semua pengingatan akanmu. Aku tak peduli walaupun setiapkali tanganmulah yang menghapus airmataku, aku tak peduli walau hatimu penuh menampung segala keluh kesahku. Aku tak peduli segala sapaan hangatmu. Aku tak peduli padamu . Aku tak peduli rasamu. Aku menepiskan semua tentangmu. Aku tak cukup mengenalmu. Saat itu, aku tak mampu mengeja rasamu. 

Butuh ribuan hari untuk mendapat sebuah pemahaman, bahwa dirimu layak atas segala rasa indah ini. Dan ketika pemahaman itu menghampiri, akupun berhenti berlari. Mengeja dirimu dan membaca segala tentangmu, hingga aku melebur diri ini menjadi lautan, meluas dan terus meluas, hingga mampu kugapai rasamu. Menyatu dalam rentang jarak dan waktu. Menyelesaikan segala yang tertunda meski tanpa bersua. 

Kini keping-keping peristiwa itu telah menjadi utuh. Kubingkai dengan pemahaman. Dan kupajang dalam dinding hati. Setiap kali aku tersenyum ketika menatapnya. Saat ini, jarak yang membentangpun tak mampu membuat jeda atas rasa ini. Aku ada untukmu. 

Deventer, East Netherland, 8th March 2014, 6.45pm

Jumat, 07 Maret 2014

Semata Mata Cinta Semata

Bukan, bukan karena aku ingin memilikimu, maka aku mencintaimu. Bukan itu. 

Ketika cinta memanggilmu, kaupun tak pernah tahu betapa yang keras akan menjadi luluh, yang lelah menjadi bergairah, yang abu-abu menjadi merah jambu. Tak mudah memang untuk percaya begitu saja, namun kau bisa saja merasakannya ketika waktunya tiba. Saat itu kau tak bisa menghindarinya, sayap cinta mengepak begitu cepat, meluncurkan busur-busurnya, dan menancapkan jauh ke dalam kalbumu. Terkadang, seakan tanpa alasan, namun itulah kenyataan yang harus kau selesaikan.

Dan kenyataan itu adalah saat sebuah peristiwa yang tergambar jelas dalam satu pengingatan jiwa. Meskipun aku tak pernah tahu kapankah itu terjadi. Sudahkah? atau akankah? Entah. Yang pasti disana aku melihatmu bersujud dan berserah sepenuhnya, menghamparkan tubuhmu serendah bumi, penghormatan tertinggi pada Sang Pencipta. Khusyuk dalam tengadah tanganmu memanjatkan do'a-do'a penuh cinta. Di depanku. 
Di belakangmu adalah aku, mengikuti seluruh gerakmu, selaras dalam harmoni puja dan pujimu. . 

Kubiarkan semua mengalir apa adanya. Tak hendak ku mengejarnya, tak hendak ku menghindarinya. Aku hanya perlu memahami tentang cinta. Karena aku tahu, dengan cinta kan kutemukan jawabannya.

Bak bibit yang tersemai di ladang subur, tumbuh dan terus tumbuh merindangkan kasih. Pohon cinta yang kokoh, yang senantiasa menawarkan keteduhan dari dedaunannya, kesegaran dari nafasnya dan manisnya buah yang siap dituai. Sebatang pohon hanya memberi tanpa pernah meminta balas jasa. 

love
fallin so deep in the heart
just let what it goes

Berlin, 7 March 2014 12:52 am


Selasa, 04 Maret 2014

Pertemuan

Mentari sore itu memendarkan jingga kemerahan di ujung cakrawala, dan bulan membiaskan seiris tipis lengkung indahnya. Senja mengabarkan bahagia yang dikirimkan dari seseorang di seberang benua. Adalah sesuatu yang nyata yaitu ketika raga tak berjarak, jiwa ini belumlah bertemu. Namun ketika lautan nan luas dan dataran benua benua membentang jarak, jiwa ini bagaikan menemukan belahannya. Menyatu dalam alunan nada yang seirama, menggemakan kidung yang senada. Seia sekata. 

Hidup ini telah menyimpan alur cerita yang harus dijalani. Kisah satu jiwa bak perahu yang harus menempuh ber mil mil perjalanan hanya untuk menemukan pelabuhannya, untuk menyelesaikan urusan yang harus dikembalikan pada semual, nol. Hati akan menjadi pemandu, cinta akan menjadi bahan bakarnya. Ketika getaran dalam hati muncul disitulah satu pertanda, sebuah pelabuhan telah menanti untuk jiwa menyelesaikan urusannya. 

Tak ada kebetulan, semua memang harus terjadi begitulah adanya. Pada sosok yang tepat dan pada waktu yang tepat, semua telah dihitung dengan seksama oleh pencatat kehidupan. 

Terkadang manusia lupa, terlalu larut dalam alur getaran yang membiusnya. Hingga terlena akan tugas yang sebenarnya. Tugas yang sebenarnya hanyalah sebagai pengemban cinta yang sejati, yaitu seorang pengemban cinta yang benar-benar paham bahwa tugasnya hanyalah menjadi pembawa cinta, untuk memberikan cinta pada yang dicintainya, tanpa tuntutan, tanpa penderitaan. 

Dan senja itu aku hanya mampu menggumamkan, terimakasih Tuhan, aku paham.

on the way to Berlin, tengah siang


Minggu, 02 Maret 2014

Gita Nirwana

Merona-rona indah berseri
dalam hamparan permadani rerumputan menghijau
bernaung birunya angkasa raya
sejauh memandang hanyalah keindahan semata

Bangkit dan menarilah
dalam getar alunan gita nirwana
cakrawala telah dibuka
pintu mata jiwa menyalakan api cinta
menyatu dengan desiran angin
menyatu dengan jingga mentari
menyatu dengan warna warni pelangi
menyatu dengan segala dalam semesta raya

duka lara adalah masa silam
yang telah bertumbuh menjadi kematangan
suka cita adalah masa silam
yang telah bertumbuh menjadi kebijaksanaan
semua indah apa adanya

(Unspoken) I Love You

"Pada kehidupan terdahulu dia adalah pasanganmu, tak kau lihatkah, cintanya sedemikian besar untukmu. Bukalah hatimu, beri dia kesempatan untuk menyelesaikan cintanya padamu." Bisikan itu demikian jelas menjejak pintu kesadaranku.

Aku teringat saat saat kami masih sering melewatkan senja bersama, menghirup wangi kopi, bercengkerama hingga terkadang lupa waktu hingga larut malam. Hanya saja aku tak pernah berpikir seberapa dalam apa yang dia rasakan. Dan akupun tak pernah berpikir, aku memiliki rasa yang sama. Hingga sore itu, ketika satu pesan singkat terkirim kedalam memori telepon genggamku, 
"I'll go abroad, for fourteen days. Europe" dari dia.
Saat itu aku sedang bersama teman-temanku, biasanya aku tak pernah menghiraukan apapun pesan darinya, namun sore itu, ada yang menghentak jantungku, berdegup tak beraturan, 
"kapan berangkat?" tanyaku, 
"Besok malam." 
Huuuffthh. 

Aku bertanya kepada diriku sendiri, "kenapa aku harus merasa kehilangan? biar ajalah dia berangkat, biasanya juga biasa aja.." 
"aaaaa... tapi kali ini tak biasa," kata sisi lain diriku. hm,,, ya, ada yang berubah didalam sini.

Sore hingga malam semua message ke dia, lewat media manapun terpending. Ah sudahlah.. 

Hingga malam ini, ada satu pesan lagi dari dia, "Baru sampai Jakarta." 
"Penerbangan 16 Jam??? What a feel? Huuufftt.. I'll miss you," jawabku, rasanya seperti diaduk-aduk mengatakan hal itu. 
"Miss you too" jawabnya singkat..
Semua mengalir indah, hingga saat dia berkata, 
"wish me luck." 
"yes, of course. aku selalu memelukmu lewat do'a do'a ku..." 
ah, 
dan, percakapan mengalir tak terasa, hingga dirinya benar-benar pamit karena harus ke pesawat. Aku duduk, hati kecilku membisikkan satu kalimat untuknya, "I love you.." satu kalimat yang tak pernah terucap oleh mulutku. Tapi aku yakin, sangat yakin, pasti dia mengatakan hal yang sama. Hati ini merasakannya. 

Dan akupun kembali pada kehidupanku sediakala, buku-buku, tuts keyboard dan layar laptopku. Aku tersenyum. Aku bahagia, sangat bahagia dengan semua kehidupan yang diberikan oleh Sang Pemilik Kehidupan ini, apa adanya, apapun yang aku terima. Dan aku sangat percaya, diapun merasakan bahagia yang sama.

I love you, deep in my heart.. 
in silent

Jumat, 28 Februari 2014

Kopi Hitam dan Kita

Kopi hitam, kopi kesukaan kita. Beberapa senja kita lewatkan bersama kopi hitam, kopi kesukaan kita. 
Dalam malam ketika bulan mati tak berjejak, hanya gulita dan debur ombak di pantai. Pada sebuah pondok kayu tua, menanti datangmu. Dua cangkir kopi telah terhidang, diseduh beberapa menit lalu. Asapnya menyisakan aroma harum. Kopi hitam, kopi pahit kesukaan kita. Satu waktu terjanji tuk sebuah pertemuan. Menit-menit penantian. Sosok jangkungmu akhirnya datang. Rupanya gelapnya malam tak mampu menutupi pertanda kehadiranmu. Sebagaimana sikap dinginmu yang tak mampu menutupi rasamu padaku. Aku tahu, setengah mati kau berjuang membendungnya, meski acap merembes juga, dan mengalirkan bulir-bulir pertanda yang mengabarkan tentang sebuah rasa. Ingin kuberkata untuk apa bendungan itu kau bangun sebegitu kokohnya? Biarkan saja dia mengalir mengikuti takdirnya, dalam keindahan alur menuju samudera. Namun tak terucap, akupun menyimpan semua kata itu dalam kotak memori saja.

Kupersilahkan kau duduk. Beradu hadap, saling bersitatap. Runtut kata terangkai menjadi sebuah cerita. cerita kerinduan yang bertalu-talu menghentak segenap ruang rasa. Berdesir desir berkesiur membaluri jiwa. Tak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu apa yang ada di dalam sana. Aku ada disini untuk setiap keluh kesah jiwamu. Larutlah dalam rengkuh makna.

Hening sesaat, entah apa yang berkecamuk dalam anganmu, kubiarkan kau sejenak lelap dalam dirimu sendiri, dan aku memutar waktu, menyusuri lorong menuju pada tiga tahun silam, saat itu kita duduk dengan posisi yang sama, dan tentu saja dengan dua cangkir kopi hitam, kopi pahit kesukaan kita. Kau datang pada sebuah senja hari, dengan rasa yang sama besarnya. Namun sayang, waktu itu tak ada pintu tak ada jendela kesadaran kubuka. Tak satupun. Tapi kau tetap menggenggam semuanya. Dan akupun terhenyak, tiba pada satu kesadaran, betapa kuatnya kau kunci rasa itu, betapa kokoh kau membendungnya, namun aku yakin dengan kapasitasmu, kemampuanmu mengolahnya, sehingga semua berjalan seakan tak terjadi apa-apa. Kubiarkan berlalu jabat erat yang kau tawarkan, kubiarkan lewat begitu saja indahnya. Aku membuat marka, sekat yang memaksakan aku terdiam dalam kungkungan arogansi tanpa makna.

Tiga tahun semenjak saat itu, sekarang. Aku beruntung ketika jemari cinta hadir melembutkan kerasnya hati yang telah menjadi batu, melepaskan berjuta kubik kemarahan, dendam, iri dan kesombongan. Lalu menggantikannya dengan cahaya dan cinta yang begitu agung. Hati ini meluas, seluas samudera, bersedia menerima apapun yang datang dengan penuh keikhlasan. Kesombongan luluh berganti dengan kerendah hatian nan indah. Dan ketika kaupun datang lagi pada saat yang tepat. Saat samudera jiwa telah mampu menampung luapan apapun. 

Aku menatap keatas, asap rokokmu menari-nari penuh sukacita, berbaris acak riang gembira merayakan pertemuan jiwa yang menunggu sekian lama. Beberapa kali tertolak, bak kelahiran dan kematian rasa yang berulang-ulang. Reinkarnasi cinta akhirnya menemukan penyelesaiannya. Semoga. 

Kamis, 27 Februari 2014

Sore Itu

Jepun Bali warna merah muda itu terlihat mekar bergerombol di pokok-pokok tangkai nun di pucuk atas sana. Aku mendongak menikmati keindahannya. Seluruh permukaan pohon itu nampak memerah muda, daun-daun hijaunya tersamar dibawahnya. Sementara di seberang jalan, pohon yang sama, hanya nampak pucuk-pucuk merah mudanya, tak satupun bunganya mekar. Tadi seseorang telah memanen bunga-bunganya.

Aku termenung, menemukan sesuatu dalam hatiku. Ya, begitulah seharusnya dalam mencintai. Seperti halnya menanam tanaman bunga, memeliharanya, memupuknya dan membiarkannya tumbuh besar dan berbunga, cukuplah dengan memandangi bunga-bunga yang indah bermekaran tanpa merenggutnya dari tempat dimana dia berada, menjadikan diri ini dipenuhi dengan kebahagiaan. Mencintai bukanlah dengan cara merenggut bunga dari tangkainya lalu menjadikannya hiasan di atas vas meja.

Dan kubiarkan semua berjalan apa adanya, seperti biasanya. Kubiarkan cinta mekar dalam jiwaku, seperti membiarkan bunga-bunga jepun itu tetap pada pokoknya. Kupandangi dengan sepenuh jiwa, itu cukup membuatku bahagia. Dan cintapun tersenyum padaku.

Di sore itu

Kamis, 13 Februari 2014

Kubiarkan Memerah Jambu

Sendiri di sudut kamar di penghujung malam, suasana diluar sama seperti biasanya, sunyi, sesekali hanya gemerisik angin menyapu dedaunan pohon mangga di depan rumah dan percakapan beberapa pemuda dengan logat Indonesia timur yang melengking-lengking di belakang rumah. Sudah kucoba merebahkan tubuhku dan tidur, namun gagal, beberapa kali kubalik-balik badanku, tetap saja tak bisa. Setiap kali kupejamkan mata, lengkungan mata yang membentuk bulan sabit ketika tertawa itu selalu saja muncul dengan sangat jelas, lekuk tertawanya, deretan giginya yang rapih, kepulan asap rokoknya, suaranya, ekspresinya, sorot mata teduhnya.. semua... Tuhan kenapa denganku ?? 
Kenapa tiba-tiba menjadi begini ? Inikah yang disebut pengingatan bawah sadar ? Ataukah ini halusinasi? Apakah aku sedang terjebak dalam sebuah kisah fiksi yang menceriterakan tentang lakon kehidupan dengan alur reinkarnasi? Rasa ini... kenapa?

Semenjak hari itu, semenjak pertemuan yang tak direncanakan itu, semua rasa seperti diaduk-aduk. Aku merasa sangat dekat dengannya, seakan-akan dia adalah bagian dari hidupku. Ingatan-ingatan itu berkelebatan. Dan semakin kuat muncul kala kupejamkan mataku. Semua pertemuan yang sebelumnya tak pernah aku anggap penting tiba-tiba muncul silih berganti bak film di layar bioskop. Diiringi dengan rasa aneh, yang aku tak tahu apa namanya. Tuhan, aku tak berani memejamkan mataku. Karena setiap kupejamkan, wajahnya muncul bertubi-tubi. Aku takut, aku tak mau keluar dari dunia itu.

Berjam-jam aku bergelut dengan pengingatan dan rasa yang tiba-tiba menjadi aneh ini. Untuk menghubunginya, aku tak punya cukup nyali. Aku memandangi wajahnya yang terpampang di wall dengan jelas. Jelas sekali, seakan tersenyum denganku. "Hai", sapaku pada gambar itu. Sesal yang tak mungkin kutebus dengan apapun atas sikapku selama ini yang telah menyia-nyiakan perhatiannya, seakan ingin kubayar dengan ini. Entahlah. 

Akhirnya, kuputuskan dengan segenap kesadaran, kubiarkan rasa ini masuk dan terus masuk ke tempat terdalam dalam jiwaku, kubiarkan ada disana dan memerah jambu. Hingga memenuhi jiwaku, dan kubiarkan terus meluas-meluas dan terus meluas, hingga menuju kepada dia yang ada dalam gambaranku kubiarkan memenuhinya dan mewarnainya juga. Karena aku tahu rasa kasih yang paling murni takkan pernah menyakiti siapapun. Kubiarkan dia tenggelam dalam merah jambuku. "Ya, kuijinkan kerinduanmu hadir untukku, kuijinkan semua darimu yang selama ini kutolak ada untukku, kuijinkan dirimu ada bagiku ketika kau menginginkannya ada aku padamu."

"terimakasih Tuhan, aku menjalani saja, semua terjadi atas ijinMU,  itu pasti, dan aku meyakini"

Seiris Sesal

Lebih dari hitungan enam tahun sudah berlalu sejak sore itu. Sore yang mendung dan biasa-biasa saja menurutku. Bukan dirimu tujuanku bertemu, tapi seorang teman yang memang sudah aku kenal dekat sebelumnya. Kita berkenalan, bersalaman, berbincang-bincang. Biasa-biasa saja, tak ada kesan yang lebih. Aku tak sempat memperhatikanmu, karena menurutku dirimu terlalu datar dan terlalu formal untuk dijadikan teman. Jadi aku tak terlalu peduli keberadaanmu. 

Pun ketika tiba-tiba pada suatu siang dirimu menghubungiku beberapa waktu sejak sore itu, mungkin hitungan bulan, mungkin juga hitungan minggu, aku lupa. Aku hanya tertawa ringan dan tak serius menanggapinya. Ah, isenglah pikirku.

Aku tak pernah tahu kapan tepatnya akhirnya kita jadi berteman. Hingga kita menjadi cukup saling mengenal, menghabiskan sore bersama, sharing, hang out, ngopi, ngobrol. Tetapi tetap saja buat aku dirimu biasa-biasa saja. Walaupun beberapa kali dirimu menyatakan kerinduanmu padaku, kamu ingin menyenangkan aku dengan mengajak liburan bersama, tak jua aku tanggapi. Aku berlalu, melewatkan uluran tiket Bali, Malaysia... ahh. Semanis apapun kata-katamu, sebaik apapun dirimu, telponmu, smsmu, semua sapaanmu aku tanggapi dengan dingin. Biasa. Datar. 

Mungkin aku terlalu sombong, cuek dan masabodoh padamu, dan mungkin itu yang akhirnya membuatmu diam saja ketika dirimu berkunjung ke kota tempat aku tinggal. Namun, ketika Tuhan menghendaki terjadinya sebuah pertemuan, aku maupun dirimu takkan bisa menghindarinya. Bukan suatu kebetulan bila akhirnya aku tahu dirimu ada disini. Berarti Tuhan memang berkehendak kita bertemu hari itu. Dan entah apa yang menggerakkan pikiranku saat itu, aku mengambil handphone disaat aku sedang sibuk dengan angka-angka di laptopku. Aku lupa apa tepatnya yang aku katakan saat itu, yang pasti aku protes karena dirimu datang ke kota ini dan tak memberi kabar tentang kedatanganmu, "aku gak sukkkaaa!!" kataku. Dengan kalem kamu menjawab, memang gak memberi kabar karena biasanya aku sibuk. "Aku culik yaa.., kita makan diluar aja" kataku..

Dan sore itupun kita habiskan dengan secangkir kopi hitam kental dan kepulan asap rokokmu, seperti biasanya, seperti dulu. Tak ada yang berubah denganmu, kamu masih seperti dulu, mengulang-ulang cerita  tentang pertemuan kita pertama kali di sore yang mendung itu. Obrolan kita seperti biasa seru, dari ujung jalan dirimu kujemput hingga ujung jalan dirimu kuantarkan kembali. Ya, kamu tetap sama, tapi, aku yang berubah. Aku tak tahu kenapa, mungkin saat ini hatiku sudah melunak, meski aku tak menampakkannya di depanmu. 

Entah apa ini, mungkin simpati, mungkin kesadaran yang lain, aku tak tahu apa tepatnya, yang pasti beberapa  saat semenjak pertemuan itu aku memikirkan tentang dirimu, dan aku baru sadar, ternyata dirimu memperhatikan aku selama ini, dan aku yang terlalu masa bodoh. Tiba-tiba aku disergap rasa kehilangan moment-moment saat kita bersama-sama...Terselip sesal. Maafkan aku. 

Rabu, 25 Desember 2013

Bisik Hening Empatpuluh

Adalah seusap lembut penghujung malam menjelang pagi menyelinap di ruang jiwa, mengingatkan akan datangnya waktu yang tak pernah berhenti. Menggamit ingatan pada lembar-lembar masalalu, mengajak lekuk lekuk kelabu memutar ulang semua kisah. Bak sebuah pentas drama kehidupan, sebuah layar raksasa yang menayangkan ulang semua yang terekam. 

Layar membentang dalam sinema imaji, baik buruk, susah senang, sedih bahagia, hidup adalah warna-warni si dua satu, rwa binnedha, satu selalu ada untuk yang kedua begitupun dua ada untuk yang satunya. melengkapi. Menerima keduanya apa adanya dengan penuh sabar dan syukur, karena keduanya memang diciptakan untuk ada. Saling memberi dan menerima dalam sebuah keselarasan yang menjadikan semua menjadi indah.

Satu episode mengisahkan bahwa hidup adalah sebuah pohon, mengakar dalam, membumi, dan dedaunan menengadah ke atas ke haribaan Tuhan, menjadi rumah, menjadi sumber makanan, menjadi jalan bagi mengalirnya sumber air pengetahuan. Memberikan tanpa berharap sebuah balasan. Berbuat tanpa terikat pada keinginan untuk hasil. 

Adalah peluk udara pagi mengingatkan akan keberadaan bejana jiwa yang pernah terlahir dan akan berakhir dalam satu rentang waktu dalam ketentuan Sang Maha Pencipta. Berawal kosong dan bebas, tak berisi beban dan hanya terikat pada Yang Satu, begitupun seharusnya ketika berakhir nanti, bersih, kosong dan hanya kembali kepada Yang Satu. 

Satu ketukan lembut di daun pintu, menyapa atman, menguntai doa dan keberkahan mengingatkan untuk kembali berjaga dan bekerja penuh keikhlasan dalam diam. Terus sibuk berbuat dalam kehendakNYA hingga ketukan lembut di daun pintu jiwa, penanda waktu telah sampai pada ujungnya. 

Bebaskan kembali jiwa, biarlah hanya terikat pada Yang Satu, bersihkan hingga tampaklah  terang benderang. 

#merayakanbebas #penuhcinta #penuhberkat #penuhsyukur #terimakasih Allah 

Jumat, 22 November 2013

Aku dan Teman

Engkau menanyakan tentang aku. Hanya seulas senyum tipisku sebagai jawabannya. Sudah terlalu lama kau pergi meninggalkan aku, sudah terlalu jauh jarak yang terbentang. Terlalu banyak yang kau tak mengetahui tentang hidupku. Mungkin, kau nyaris tak mengenaliku. Bila jiwa telah tak seia sekata, takkan lagi rasa yang sama kan tercipta. 

Dulu mungkin berkubang airmata dan tangisan manakala melihatmu tak berpihak kepadaku. Dulu ada amarah, sumpah serapah, dendam kesumat dan tak bisa menerima semua perlakuanmu. Tapi itu dulu temanku. Saat ini kau adalah temanku, teman yang telah berjasa membuatku terjatuh di titik nadir, sehingga membangkitkan sebuah kesadaran akan pencarian kesejatian.

Kesedihan yang dalam menyadarkan aku, bahwa aku berada dalam kegelapan. Dan aku merangkak mencari pelita untuk menemukan cahaya. Dan Tuhanpun mendengar ratapanku, pencarianku disambutNYA dengan memberikan cahaya dan cintaNYA untukku. Sungguh, sebuah ketenangan yang luar biasa, damai yang tak bisa ditukar bahkan dengan seribu cinta darimu temanku..

Semua memang harus terjadi untuk sebuah alasan, dan kitapun harus bertemu dan berpisah untuk sebuah alasan. Tak perlu ada yang disesali, tak perlu ada yang dipertanyakan dan tak perlu ada yang dikhawatirkan. 

Saat ini semua sudah menjadi indah sebagaimana harapan. Keindahan untuk kehidupanmu, dan damai sejati untuk kehidupanku. Biarkan semua berjalan apa adanya sebagaimana kehendak Tuhan, biarlah semua berbahagia menjalani pilihan hidupnya. 

Senin, 23 September 2013

Memeluk Masalalu (Dulu)

Dulu pernah indah. Dulu, aku pernah memiliki mimpi bersamanya. Dulu, aku pernah memiliki harapan tinggi bersamanya. Dulu dia pernah datang padaku dengan sejuta manisnya tutur kata. Dulu kami pernah bersama-sama merajut asa. Dan, dia memutuskan pergi bersama yang lainnya. Yang ternyata kekasih lamanya. Dulu aku pernah merasakan sakit yang teramat dalam atas kepergiannya. Dulu, aku menganggapnya pengkhianat cinta. Dulu aku menganggapnya manusia keji. Dulu semua hal adalah buruk tentang dia. 

Dulu adalah serangkaian peristiwa. Terangkum dalam bingkai-bingkai masa lalu. Masa ketika dendam kesumat menyala-nyala. Sumpah serapah membahana. Sakit yang tak terperi, kecewa yang amat dalam. Sakit. Dulu adalah sebuah tanya. Sebuah protes ke alam raya yang tak kunjung menemukan jawabannya. Tuhan, kenapaaaaaaaa!!!!??

Seorang teman mengajakku memaafkannya. Sudah. Mulutku sudah mengucapkannya. Hatiku sudah. Setidaknya, aku merasa sudah memaafkannya. Walaupun sebenarnya aku tak pernah tahu, maaf itu apa, perih itu masih ada. Aku memutuskan terus melanjutkan perjalanan, menapaki sekarang. Mengendap dalam dan tertutup aneka peristiwa. Tertutupi kamuflase kesibukan dunia, tuntutan perut dan materi lainnya. Kesibukan membuat sejenak melupakan apappun yang terjadi dulu. Hingga aku melupakannya. Aku tak pernah menyadari dulu masih selalu terbawa, terbungkus rapih dalam sudut jiwa. 

Dulu sudah lama berlalu. Aku nyaris lupa. Aku merasa semua sudah menjadi beda. Aku tak pernah hirau, ketika percik-percik desiran perih kadangkala muncul. Biarkan saja. Berlalu berlalu berlalu, aku harap semua berlalu dan menjadi indah. Hingga satu ketika, aku sempatkan diriku berkaca. Aku tak bahagia. Aku masih menginginkan bahagianya. Dulu tak sepenuhnya tersimpan rapi. Kadang-kadang geliatnya muncul di permukaan dan menimbulkan kesakitan yang luar biasa. Aku merintih, Tuhan, ajari aku membuang dulu. Aku tak mau dia selalu membebaniku. Namun Tuhan seperti tak mendengarkan aku. Dulu justru semakin sering muncul dan semakin sering menyakitiku. 

Aku terduduk bersama-sama mereka, para pencari damai. Mendengarkan seorang guru, mengajarkan tentang sebuah rahasia. "Ketika kau sangat membenci sesuatu, sebenarnya kau tengah mengundang sesuatu itu datang padamu, semakin kuat kau membencinya, semakin kuat kau mengikat hal yang kau benci itu tetap ada dalam hidupmu." "Lantas, bagaimana cara melepaskannya guru?" "Melepaskan apa yang kau benci, bukan dengan keinginan melepaskannya. Karena semakin kuat keinginanmu melepas, semakin kuat keterikatanmu. Terima apapun yang sudah terjadi dalam hidupmu dengan penuh keikhlasan. Semua terjadi karena memang harus terjadi. Terima dan maafkan. Ikat dirimu pada Tuhan, hanya Tuhan. Biarkan hanya Tuhan yang menguasai hidupmu. Ketika kau sudah mengikatkan dirimu pada Tuhan, takkan ada lagi sesuatupun yang mampu menyakitimu."

Aku terdiam. Luluh. "Tuhan, aku menerima semua jalan hidupku, semua terjadi karena memang harus terjadi. Bukan untuk menguntungkan siapa, bukan untuk merugikan siapa. Semua harus terjadi untuk satu rancanganMU. Aku wayangMU, aku menerima semua jalan ceritamu. Karena aku tahu, semua hal buruk yang menimpaku adalah hasil dari perbuatanku sendiri, karena aku tahu ENGKAU tak pernah menganiaya hambaMU. Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Cinta, maafkan aku. Selama ini aku tak pernah menganggapMU benar-benar ada. Hari ini aku bersimpuh, luruh. Peluk aku Tuhan, biarkan aku larut dalam damaiMU, biarkan aku berpegang pada taliMU, selalu bersamaMU." Sesuatu yang hangat menyelinap dalam jiwa, menyelimuti dengan penuh kasih. Kasih yang berbeda, yang belum pernah aku temukan sebelumnya. Sejatinya kasih, sehingga aku mampu tersenyum, senantiasa tersenyum dan memancarkan kasih yang sama untuk semua.

Jauh di kedalaman, saat ini kulihat dulu dengan penuh kasih, tanpa kebencian. Kubiarkan dulu tetap berada disana apa adanya dan kupeluk dengan penuh kedamaian. Dulu menjadi sebuah pelajaran yang indah disaat aku mampu memeluknya dengan cinta.



Selasa, 14 Mei 2013

Semua Akan Indah Pada Waktunya

Gembira tak. Sedihpun tak. Semuanya tak mampu lagi menghujani hati. Datar dan terasa sangat biasa. Mungkin inilah damai. Memeluk sunyi dengan satu senyuman, karena ku telah menemukan betapa cahaya hidup lebih mampu mengisi kesunyian bukan dengan suara manusia namun dengan kehadiran bahagia yang datang bukan dari siapapun, namun muncul dari kedalaman diri. 

Pencarian panjang tentang damai sejati. Tak semudah memindah channel televisi. tak semudah mencari teman minum kopi. Sekian lama, kesana kemari mencari damai. Lama tak kunjung bertemu. Nyaris jiwa ini putus asa, nyaris jiwa ini menyalahkan jalan hidup. Namun setelah berada di kejauhan, dan mampu mencari tempat yang lebih tinggi tuk menengok perjalanan kehidupan, mampu berpikir jernih, barulah menemukan., betapa, segala yang terjadi, memang haruslah terjadi. Airmata dan peluh yang membasahi setiap inci perjalanan hidup itulah yang menyiram jiwa ini, sehingga terus bertumbuh-terus bertumbuh, merambat hingga jauh dan akhirnya menemukan tempatnya untuk berkembang, berbuah dan menjadi berguna. 

Ketidaksabaran manusia kadangkala membuatnya menghentikan langkahnya di tengah perjalanan, padahal pada saat itulah Yang Kuasa tengah menggoreskan pahatya untuk mengukir jiwa kita agar lebih indah. DIA tengah menggosok jiwa kita agar lebih bersih dan cemerlang, sakit memang, namun tak ada satu kecemerlangan yang didapat tanpa proses yang "menyakitkan". Bukankah, emas, intan, batu pualam, harus digosok dulu sebelum mendapatkan kilauan dan nilainya yang tinggi? bukankah mutiara harus memeluk sesuatu yang membuatnya perih sebelum bisa menghasilkan butirannya yang berkilauan? Bayangkan emas, intan dan pualam tak tuntas mengalami perihnya proses, tentu yang didapatkan hanyalah sebongkah batu yang tak bernilai tinggi.

Bila penderitaan, sakit hati atau kemarahan datang, terima saja dengan penuh kesadaran, bahwa ini adalah sesuatu yang memang harus dilewati untuk lebih mendewasakan kita. Peluk dengan penuh kesadaran, bahwa kita ataupun orang lain tak ada yang luput dari kesalahan, memaafkan dan memaklumi takkan menambah sakit hati kecuali pada orang-orang yang menyombongkan bahwa dirinya tak pernah  membuat kesalahan. Terimalah perih itu dengan penuh lapang dada dan percayalah, semua akan indah pada waktunya.  ^_^



Sabtu, 20 April 2013

Nyanyian Burung Hantu

" Matahari terbenam, hari mulai malam. Terdengar burung hantu, suaranya merdu.. uu uu uu uu uu " 

Bekerja adalah kewajiban yang harus dijalani, ibarat sebuah pernikahan yang didasarkan atas perjodohan, aku tak memilih pekerjaanku saat itu, karena tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, aku melamar dan menggelutinya. Banyak suka duka, terkadang jenuh dan demotivasi, serasa ingin bercerai dengannya. Namun , bila aku resign, mungkin tak mudah aku menemukan lagi yang seperti ini. Didasari pemikiran itu, aku memutuskan untuk mencintai pekerjaan ini, apapun dia. Seperti pasangan hidup, pasti ada kelebihan dibalik beberapa kekurangannya. Benarlah, perlu strategi hati agar tak jenuh dan bertengkar sendiri, harus seimbang antara hak dan kewajiban keakuan, harus bisa menemukan serpih diri sendiri diantara tuntutannya yang mengaburkan jatidiri. Aku bisa tetap mencintainya tanpa mengabaikan kebahagiaan diriku sendiri.Tanpa harus menyelingkuhi pekerjaanku, aku hanya harus membagi waktuku antara pekerjaan dan diriku sendiri. Ya, aku menemukannya di dalam malam. 

Entah apa jadinya bila hari berlalu tanpa malam. Terimakasih Tuhan, telah menghadiahkan malam dalam setiap harinya, meskipun aku tak bisa memiliki seluruh malam, namun setidaknya ada secuil malam yang bisa benar-benar menjadikan diriku adalah aku. Tak peduli apa namanya, malam minggu ataupun bukan, setiap lewat tengah malam adalah keindahan tersendiri buatku. Waktu dimana aku bisa menjadi aku, waktu dimana aku terbebas dari jerat-jerat kapitalis, waktu dimana aku tak harus berhubungan dengan uang dan segala materialisme. Waktu dimana aku bisa  memiliki diriku sepenuhnya, bercengkerama dengan penuh cinta dengan cinta sejatiku, Tuhan. 

Senin, 01 April 2013

Hening Jiwa

Lahir, hidup. Butiran demi butiran molekul oksigen merasuki paru-paru, lalu dikeluarkan bercampur karbon sisa pernafasan. Menikmati setiap hirup dan hembusan nafas. Terduduk hening di tepian sungai bening yang mengalirkan gemericik air. Paras wajahnya tersaput lembut sinar matahari senja, gurat-gurat lelah tersamar. 

Sabana, hutan dan gurun kehidupan mengajarkan banyak hal. Rumpun ilalang, pepohonan menjulang, butiran demi butiran pasir, desau angin, silau mentari, basahnya rintik hujan, dan setiap jiwa yang dijumpai menyemaikan pelajaran kehidupan, membawa jiwanya bertumbuh. 

Kadang tak yakin tuk mampu beranjak tuk satu pencapaian yang lebih tinggi lagi. Dia terlalu menjiwai bulir-bulir airmata yang menggenang tanpa mampu berucap pada siapapun. Tatkala pedih datang, semua luka-luka lama seakan-akan tercabik-cabik lagi. Terkoyak-koyak oleh angan, perasaan dan segala yang tak kasat mata tapi terasa. 

Lelah berangan-angan, lalu menyerah. Menyerah pada takdir, menyerah pada kuasa Illahi. Memilih untuk mati rasa. Pupuk memang tak berbau wangi dan tanah yang didangir adalah hamparan tanah yang sengaja dibuat terluka. Tak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Jiwa ini sedang bertumbuh dan berharap kuat sampai pada sebuah ketenangan yang tak terusik lagi oleh luka ataupun bahagia. Sedih tak mampu lagi membuatnya menitikkan airmata, hanya membuat butiran yang mengilatkan mata,  gembira tak mampu membuatnya tertawa, hanya seutas senyum simpul sederhana.  Kosong, tak ada sedih tak ada gembira. Hening. 

Selasa, 04 Desember 2012

Langkah Di Atas Kaca


Dalam lelah aku berjalan diatas lantai kaca, indah sekali, nyata namun pastinya mudah sekali pecah. Mataku menerawang ke depan, kosong, gemericik air berlalu begitu saja tanpa kesan. Segenap pikiran dan perasaan tentang harapan bergumul seru dengan kenyataan. Tersakiti oleh kenyataan yang jauh dari tuntunan, hanya mampu memohon pada Tuhan, "bila berkenan, datangkan seseorang yang mampu membimbing aku dalamMU"

Entah benar atau tidak seseorang tiba-tiba datang menghampiriku. "Hei, aku ingin dekat denganmu" dan kujawab,"Tidak, kau tak akan sanggup berjalan bersamaku diatas lantai kaca ini. Rumpil dan mudah pecah". "Tidak disitu, aku akan membuat sebuah rumah kayu buatmu." Seperti ditampar selaksa badai. Aku terhenyak, kutatap dirinya yang tak begitu jelas dalam remang remang rembulan malam itu. "Siapakah kamu? dari manakah kamu datang? siapa yang mengirimmu padaku?" Tapi dia hanya terdiam, lalu pergi begitu saja.  

Sehari kemudian dia datang lagi, penuh semangat, seakan akan  memang menginginkan aku ada dalam hidupnya. Kusambut datangnya tanpa pikiran buruk sedikitpun. Aku duduik dan mencoba menerima dirinya. Apa adanya. Tanpa melihat siapa dia, seperti apa dia. Aku kesampingkan semua, aku hanya meyakini, bila datang orang yang bisa membimbingku dalamNYA, bisa bercakap dalam bahasaNYA, maka tak ada hakku utk menolak uluran tangannya. 

"Boleh aku bertanya?" selalu itu yang dia katakan sebelum berbicara, dan selalu "Ya" yang menjadi jawabanku. Kubiarkan ingatanku dilucuti, semua yang ingin diketahui aku berikan. Tapi seperti hari sebelumnya, lalu dia pergi begitu saja.

Selalu begitu, berulang kali, mendekat lalu menjauh, mendekat lalu menjauh. Dan akhirnya aku pun kelelahan. Aku katakan, "Sudahlah bila memang aku bukan bagian dari cita-citamu untuk apa masih datang padaku? bukankah itu hanya membuang-buang waktumu? pergikan saja aku dari kehidupanmu. Anggap aku tak pernah ada."  Dia menjawab, "Jujur, semenjak aku kenal dirimu ada warna lain yang berharga dalam hidupku. Hidupku lebih bermakna, bersahaja karena belajar dengan mindset hidupmu yang penuh sinergi. Kalaulah berkenan aku tetap ingin jadi teman/sahabatmu. Semangat dan kuatnya hidupmu juga memotivasiku.". Aku terdiam sejenak, jujur, semenjak dia menawarkan sebuah rumah kayu buatku, aku membuka diri padanya, saat itu sudah mulai tumbuh harapan-harapan, rasa suka dan aku mulai menikmatinya. Namun, dengan kata-katanya barusan, semua harapan dengan serta merta tertutup. Dia sudah menutup pintu sebelum pintunya benar-benar terbuka. 

Akupun mulai berpikir untuk menghentikan semua permainan ini. Aku tak mau larut terlalu dalam. Aku tak mau terbawa hanyut, karena aku tahu aku pasti akan terhempas diujung sana. Aku diam dalam sebuah pesan darinya yang tersampaikan untukku. Kubiarkan. 

"Kau boleh abaikan aku, kau bisa lupakan aku, tapi tolong, jangan biarkan aku minum kopi snediri malam ini." Sebuah permintaan yang tak pernah benar-benar dia ucapkan padaku, lebih mirip sebagai satu gumam yang samar-samar. Namun aku sempat menangkap pesannya. Aku datangi dia malam itu, bercakap dalam panjangnya malam, dan berakhir pada kesimpulanku. Aku harus melindungi diriku sendiri bila tak ingin terhempas dalam arusnya yang penuh gelombang. Sebentar beriak sebentar diam. 

Sudahlah, aku beringsut. Dan pintupun tertutup sebelum benar-benar terbuka. Aku meneruskan berjalan diatas lantai kaca, menerima apa yang ada, menikmati keindahan yang aku punya. Entah sampai ujung mana kan kususuri jalan ini. Diatas lantai kaca.

Senin, 19 November 2012

Kopi Hitam & Kamu

Masih belum terlalu siang, walaupun agak terlambat bila disebut sarapan pagi. SGPC Bu Wiryo masih sama seperti aku kuliah dulu. Aku duduk mengambil tempat di pojok barat, hingga leluasa memandangi seluruh ruang. Aku berharap melihatmu datang kemari, karena aku tahu dirimu sedang ada di kota ini, dan dirimu biasanya pasti menyempatkan kemari. 

Pintu masuk, lalu lalang orang silih berganti. Tak terlalu ramai, hingga mudah mengamati siapa yang datang dan siapa yang pergi. Tak jua aku menemukan sosokmu. Hingga pada beberapa suapan, pandangan mataku tertumbuk di meja sebelahku yang dari tadi aku abaikan dari penglihatanku. Seorang perempuan dan temannya terlihat asyik mengobrol. Perempuan itu, mirip sekali dengan kamu, namun terlihat lebih matang, tenang dan dewasa. Secangkir kopi hitam menemaninya. Seketika darahku seperti tersirap, kamu kah itu??

Aku tak berani menyapa. Aku takut bila itu kamu, kamu tak mau lagi mengenaliku. Terlalu banyak luka aku hujamkan padamu. Namun bila dia bukan kamu, ingin sekali aku menyapanya, sekedar mengobati kerinduanku pada sosokmu. Benar-benar kuat daya magnet perempuan itu, menyihirku hingga pandangan ku lekat padanya, Caranya tersenyum, tertawa renyah diantara ceriwis yang mengalir dari mulutnya. Dan yang sangat mirip adalah kopi hitamnya. Mana ada sih pagi-pagi gini perempuan sarapan di warung minumnya kopi. Kadang-kadang aku tak habis pikir dengan minuman kegemaranmu itu. Dan kamu selalu mengatakan, kopi itu kamu, pahitnya kopi seperti pahitnya hidup yang kadang kadang harus kausesap, namun sepahit apapun kopi selalu terselip rasa manis seperti kamu, sepahit apapun hidupmu selalu ada senyum manis menghiasi wajahmu. Ah... kamu memang istimewa. 

"uhhuukk", aku tersedak teh manisku,karena tiba-tiba perempuan itu menoleh ke arahku, sekilas, mungkin dia merasa risih dari tadi aku perhatikan. Dia tidak berkata apa-apa, hanya melihatku. Dan aku yakin perempuan itu kamu. Kamu yang aku sia-siakan beberapa tahun yang lalu. Perempuan itu segera berdiri dan mengajak temannya beranjak pergi. Aku hanya menunduk, walaupun dalam hati aku yakin sekali itu kamu, kamu yang tak sudi lagi menyapa aku. Nyaliku lenyap, menguap takmampu berkata-kata.. hanya pandangan mataku mengiringi kepergianmu dari kejauhan. Maafkan aku perempuanku. 

Sabtu, 29 September 2012

Berguru Pada Diri

Tanpa perlu penambahan, sebenarnya hidup ini sudah sempurna. Keserakahan manusialah yang membuatnya menjadi nampak tak sempurna. Tatkala pikiran tidak dikotori oleh keluhan dan kekurangan maka, setiap musim adalah musim terbaik. Karena setiap musim membawakan tugasnya masing-masing. Seperti halnya kita tidak bisa mengatakan gula itu lebih baik dari garam, keduanya memiliki tempatnya masing-masing. Kebodohan manusia yang tidak mengetahui fungsi dari gula dan garamlah yang menyebabkan seorang manusia merasa salahsatunya lebih penting dari yang lain. Pun demikian dengan manusia semua dilahirkan dengan fitrahnya dan mengemban tugasnya masing-masing. Menjadi tukang sapu, menjadi buruh, menjadi pesuruh tidaklah lebih buruk dari seorang juragan. Tuhan tak pernah mengatakan bahwa seorang bawahan lebih rendah derajatnya dari seorang atasan, ukuran Tuhan bukanlah ukuran picik manusia. 

Yang Maha Sempurna, tanpa cela telah menciptakan semua dalam satu keseimbangan, keseimbangan senantiasa melahirkan keselarasan, harmoni dan kedamaian. Mulai dari jagad raya, ribuan bintang gemintang berarak dalam orbitnya dengan teratur, tumbukan hanya sesekali terjadi, namun itu tak merusak tatanan besar  semesta. Semua tunduk pada ketetapannya. Dalam jasad kita pun Yang Maha Sempurna, tanpa cela menciptakan satu keseimbangan, satu homestasis. Yaitu suatu konsep dimana setiap organisme memiliki kemampuannya sendiri menjaga dan mengatur keseimbangan internalnya. Setiap hari dalam tubuh kasar ini terjadi pembongkaran, pembuangan bagian bagian tubuh yang aus dan digantikan oleh sel sel baru yang lebih sehat. Namun lagi-lagi, kesombongan keserakahan dan ketidaktahuan manusialah yang merusak tatanan keseimbangan ini.  Bertuhan pada hawa nafsu, diperbudak oleh rasa nikmat yang dikecap lidah, manusia tak mau mempedulikan jeritan usus, jeritan ginjal, jeritan hepar, tangisan urat-urat nadi yang mengejang karena kolesterol buruk dan seterusnya. Hingga suatu hari tubuh tak kuasa lagi menahan deritanya hingga terkapar dan rusak segala fungsinya. Pun begitu, manusia tak juga mau menoleh kedalam, masih juga sibuk menuding kesana kesini, menyalahkan dokter yang tak becus memberi resep, menyalahkan pabrik obat yang obatnya tidak manjur dan akhirnya menyalahkan Tuhan yang memberinya sakit. 

Bila kita mau sedikit merenung, benarlah kata seorang bijak yang mengatakan, penyakit itu bukanlah kutukan Tuhan, namun penyakit adalah akumulasi kebiasaan makan kita yang buruk selama bertahun-tahun. Tuhan sudah merancang semua dengan sangat sempurna, bukan hanya hardware berupa badan kita, namun satu paket dengan software berupa ilmu untuk mengoperasikan badan ini. Bila sekarang pemerintah giat mengkampanyekan menu gizi berimbang, sebenarnyalah Tuhan sudah berpesan sejak berabad-abad lampau,  ..."makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan." (QS 7 : 31)

Jumat, 07 September 2012

Perfect Coffee

Espresso selalu serasi dengan suasana malam. Secangkir kecil namun sanggup menghentak jantung hingga menggugah indera penglihatan. Bagi sebagian orang, espresso hanyalah kopi yang sangat pahit dan aneh. Ya aneh, karena selain pahit, kental, sedikit sekali dan harganya lumayan. 

Espresso bagiku adalah potret kehidupan. Espresso selalu bisa menggambarkan hidup dengan caranya yang indah, dalam pahitnya sebenarnya ada manis yang bisa dirasakan. Mencicipi espresso bukanlah seperti mereguk minuman pelepas dahaga. Meminumya adalah dengan menyesap pelan pelan. Sebab bila terburu-buru meminumnya, hanyalah pahit yang akan dirasakan. Tanpa makna. Rasa manis yang seharusnya ada akan terlewat begitu saja. Seperti halnya kehidupan apabila dijalani dengan ketergesa-gesaan maka akan berlalu begitu saja tanpa makna kehidupan. Namun apabila dijalani dengan penuh kesabaran akan ditemukan, betapa kehidupan menyimpan berjuta-juta kemanisan hidup, kebahagiaan.

Espresso, perfect coffee. I love it!!