Sendiri di sudut kamar di penghujung malam, suasana diluar sama seperti biasanya, sunyi, sesekali hanya gemerisik angin menyapu dedaunan pohon mangga di depan rumah dan percakapan beberapa pemuda dengan logat Indonesia timur yang melengking-lengking di belakang rumah. Sudah kucoba merebahkan tubuhku dan tidur, namun gagal, beberapa kali kubalik-balik badanku, tetap saja tak bisa. Setiap kali kupejamkan mata, lengkungan mata yang membentuk bulan sabit ketika tertawa itu selalu saja muncul dengan sangat jelas, lekuk tertawanya, deretan giginya yang rapih, kepulan asap rokoknya, suaranya, ekspresinya, sorot mata teduhnya.. semua... Tuhan kenapa denganku ??
Kenapa tiba-tiba menjadi begini ? Inikah yang disebut pengingatan bawah sadar ? Ataukah ini halusinasi? Apakah aku sedang terjebak dalam sebuah kisah fiksi yang menceriterakan tentang lakon kehidupan dengan alur reinkarnasi? Rasa ini... kenapa?
Semenjak hari itu, semenjak pertemuan yang tak direncanakan itu, semua rasa seperti diaduk-aduk. Aku merasa sangat dekat dengannya, seakan-akan dia adalah bagian dari hidupku. Ingatan-ingatan itu berkelebatan. Dan semakin kuat muncul kala kupejamkan mataku. Semua pertemuan yang sebelumnya tak pernah aku anggap penting tiba-tiba muncul silih berganti bak film di layar bioskop. Diiringi dengan rasa aneh, yang aku tak tahu apa namanya. Tuhan, aku tak berani memejamkan mataku. Karena setiap kupejamkan, wajahnya muncul bertubi-tubi. Aku takut, aku tak mau keluar dari dunia itu.
Berjam-jam aku bergelut dengan pengingatan dan rasa yang tiba-tiba menjadi aneh ini. Untuk menghubunginya, aku tak punya cukup nyali. Aku memandangi wajahnya yang terpampang di wall dengan jelas. Jelas sekali, seakan tersenyum denganku. "Hai", sapaku pada gambar itu. Sesal yang tak mungkin kutebus dengan apapun atas sikapku selama ini yang telah menyia-nyiakan perhatiannya, seakan ingin kubayar dengan ini. Entahlah.
Akhirnya, kuputuskan dengan segenap kesadaran, kubiarkan rasa ini masuk dan terus masuk ke tempat terdalam dalam jiwaku, kubiarkan ada disana dan memerah jambu. Hingga memenuhi jiwaku, dan kubiarkan terus meluas-meluas dan terus meluas, hingga menuju kepada dia yang ada dalam gambaranku kubiarkan memenuhinya dan mewarnainya juga. Karena aku tahu rasa kasih yang paling murni takkan pernah menyakiti siapapun. Kubiarkan dia tenggelam dalam merah jambuku. "Ya, kuijinkan kerinduanmu hadir untukku, kuijinkan semua darimu yang selama ini kutolak ada untukku, kuijinkan dirimu ada bagiku ketika kau menginginkannya ada aku padamu."
"terimakasih Tuhan, aku menjalani saja, semua terjadi atas ijinMU, itu pasti, dan aku meyakini"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar