Mentari sore itu memendarkan jingga kemerahan di ujung cakrawala, dan bulan membiaskan seiris tipis lengkung indahnya. Senja mengabarkan bahagia yang dikirimkan dari seseorang di seberang benua. Adalah sesuatu yang nyata yaitu ketika raga tak berjarak, jiwa ini belumlah bertemu. Namun ketika lautan nan luas dan dataran benua benua membentang jarak, jiwa ini bagaikan menemukan belahannya. Menyatu dalam alunan nada yang seirama, menggemakan kidung yang senada. Seia sekata.
Hidup ini telah menyimpan alur cerita yang harus dijalani. Kisah satu jiwa bak perahu yang harus menempuh ber mil mil perjalanan hanya untuk menemukan pelabuhannya, untuk menyelesaikan urusan yang harus dikembalikan pada semual, nol. Hati akan menjadi pemandu, cinta akan menjadi bahan bakarnya. Ketika getaran dalam hati muncul disitulah satu pertanda, sebuah pelabuhan telah menanti untuk jiwa menyelesaikan urusannya.
Tak ada kebetulan, semua memang harus terjadi begitulah adanya. Pada sosok yang tepat dan pada waktu yang tepat, semua telah dihitung dengan seksama oleh pencatat kehidupan.
Terkadang manusia lupa, terlalu larut dalam alur getaran yang membiusnya. Hingga terlena akan tugas yang sebenarnya. Tugas yang sebenarnya hanyalah sebagai pengemban cinta yang sejati, yaitu seorang pengemban cinta yang benar-benar paham bahwa tugasnya hanyalah menjadi pembawa cinta, untuk memberikan cinta pada yang dicintainya, tanpa tuntutan, tanpa penderitaan.
Dan senja itu aku hanya mampu menggumamkan, terimakasih Tuhan, aku paham.
on the way to Berlin, tengah siang
on the way to Berlin, tengah siang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar