Kamis, 13 Februari 2014

Seiris Sesal

Lebih dari hitungan enam tahun sudah berlalu sejak sore itu. Sore yang mendung dan biasa-biasa saja menurutku. Bukan dirimu tujuanku bertemu, tapi seorang teman yang memang sudah aku kenal dekat sebelumnya. Kita berkenalan, bersalaman, berbincang-bincang. Biasa-biasa saja, tak ada kesan yang lebih. Aku tak sempat memperhatikanmu, karena menurutku dirimu terlalu datar dan terlalu formal untuk dijadikan teman. Jadi aku tak terlalu peduli keberadaanmu. 

Pun ketika tiba-tiba pada suatu siang dirimu menghubungiku beberapa waktu sejak sore itu, mungkin hitungan bulan, mungkin juga hitungan minggu, aku lupa. Aku hanya tertawa ringan dan tak serius menanggapinya. Ah, isenglah pikirku.

Aku tak pernah tahu kapan tepatnya akhirnya kita jadi berteman. Hingga kita menjadi cukup saling mengenal, menghabiskan sore bersama, sharing, hang out, ngopi, ngobrol. Tetapi tetap saja buat aku dirimu biasa-biasa saja. Walaupun beberapa kali dirimu menyatakan kerinduanmu padaku, kamu ingin menyenangkan aku dengan mengajak liburan bersama, tak jua aku tanggapi. Aku berlalu, melewatkan uluran tiket Bali, Malaysia... ahh. Semanis apapun kata-katamu, sebaik apapun dirimu, telponmu, smsmu, semua sapaanmu aku tanggapi dengan dingin. Biasa. Datar. 

Mungkin aku terlalu sombong, cuek dan masabodoh padamu, dan mungkin itu yang akhirnya membuatmu diam saja ketika dirimu berkunjung ke kota tempat aku tinggal. Namun, ketika Tuhan menghendaki terjadinya sebuah pertemuan, aku maupun dirimu takkan bisa menghindarinya. Bukan suatu kebetulan bila akhirnya aku tahu dirimu ada disini. Berarti Tuhan memang berkehendak kita bertemu hari itu. Dan entah apa yang menggerakkan pikiranku saat itu, aku mengambil handphone disaat aku sedang sibuk dengan angka-angka di laptopku. Aku lupa apa tepatnya yang aku katakan saat itu, yang pasti aku protes karena dirimu datang ke kota ini dan tak memberi kabar tentang kedatanganmu, "aku gak sukkkaaa!!" kataku. Dengan kalem kamu menjawab, memang gak memberi kabar karena biasanya aku sibuk. "Aku culik yaa.., kita makan diluar aja" kataku..

Dan sore itupun kita habiskan dengan secangkir kopi hitam kental dan kepulan asap rokokmu, seperti biasanya, seperti dulu. Tak ada yang berubah denganmu, kamu masih seperti dulu, mengulang-ulang cerita  tentang pertemuan kita pertama kali di sore yang mendung itu. Obrolan kita seperti biasa seru, dari ujung jalan dirimu kujemput hingga ujung jalan dirimu kuantarkan kembali. Ya, kamu tetap sama, tapi, aku yang berubah. Aku tak tahu kenapa, mungkin saat ini hatiku sudah melunak, meski aku tak menampakkannya di depanmu. 

Entah apa ini, mungkin simpati, mungkin kesadaran yang lain, aku tak tahu apa tepatnya, yang pasti beberapa  saat semenjak pertemuan itu aku memikirkan tentang dirimu, dan aku baru sadar, ternyata dirimu memperhatikan aku selama ini, dan aku yang terlalu masa bodoh. Tiba-tiba aku disergap rasa kehilangan moment-moment saat kita bersama-sama...Terselip sesal. Maafkan aku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar