Sebuah jalan hidup, terkadang tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak kita. Semakin mendalami, semakin yakin bahwa memang ada Sang Maha Pengatur Kehidupan yang merancang desain hidup sedemikian indah. Semakin malu rasanya pada Sang Pencipta, manakala teringat pada saat-saat kepahitan hidup datang, mulut ini menggerutu, jiwa ini mengeluh. Tak sabar. Padahal bukankan dalam setiap panen harus ada proses yang panjang dan tak mudah??
Suatu malam, di tengah kekecewaan yang begitu dalam, kesedihan yang menguras air mata, jiwa ini terasa begitu lelah. Terabaikan, dalam sebuah relasi yang dipaksakan. Buntu semua nalar. Tak ada manusia yang bisa diajak bercengkerama. Aku hanya bisa terduduk dalam kegelapan, mencoba berdialog dengan kesunyian, hening. "Tuhan, bisikkan sesuatu padaku, aku sungguh lelah dengan semua ini, berikan jalan". Lama, hanya sunyi. Tak sesuatupu terdengar di telingaku, hingga akhinya sebuah kesadaran menyeruak dalam pikiran. Menerobos sel sel abu abu dalam otak, mengalirkan kesadaran menyatu dengan detak jantung, "Sabarlah, bukan dia yang terbaik saat ini, dirimu hanya perlu bersabar". Damai sekali rasanya ketika kubuka kembali mata ini. Tak ada perasaan gelisah, meskipun aku belum mampu sepenuhnya menggenggam kesabaran itu.
Sepanjang waktu semenjak malam itu, yang adalah hanyalah kosong. Hanya sesekali sosokmu datang dalam sapaku meski akhirnya berakhir tanpa kesan. Hampa.
Hingga datang sebuah pesan singkat dari seseorang yang entah datang dari mana. Berbulan-bulan lalu, berkali kali pesannya aku balas dengan dingin. Namun dia begitu gigih dan keras kepala menyapaku lagi dan lagi. Aku risih. Aku merasa tak mengenalnya, bahkan pikiran buruk sempat mampir, apalagi dia tak pernah memperkenalkan jati diri yang sebenarnya. Malam itu, mungkin memang waktunya sudah tiba, aku tahu siapa dia. Tak seperti yang aku kira, tak seburuk persangkaanku padanya. Aku berada di persimpangan.
Kau masih ada, menatapku dengan cintamu, namun kau tak juga beranjak, kau hanya menatapku. Bahkan ketika aku terjatuh, tanganmu tak terulur. Kau tetap berdiri di tempatmu dan berharap akan datangnya sebuah keajaiban yang bisa menyatukan kita.
Ditempat lain, dia datang padaku menawarkan genggaman tangan yang tak pernah dilepaskan, menawarkan hati yang tak terbagi. Baginya cinta adalah pemberian yang harus diperjuangkan agar tumbuh dan berkembang.
Aku terdiam dalam kebimbangan.
Hingga datang sebuah pesan singkat dari seseorang yang entah datang dari mana. Berbulan-bulan lalu, berkali kali pesannya aku balas dengan dingin. Namun dia begitu gigih dan keras kepala menyapaku lagi dan lagi. Aku risih. Aku merasa tak mengenalnya, bahkan pikiran buruk sempat mampir, apalagi dia tak pernah memperkenalkan jati diri yang sebenarnya. Malam itu, mungkin memang waktunya sudah tiba, aku tahu siapa dia. Tak seperti yang aku kira, tak seburuk persangkaanku padanya. Aku berada di persimpangan.
Kau masih ada, menatapku dengan cintamu, namun kau tak juga beranjak, kau hanya menatapku. Bahkan ketika aku terjatuh, tanganmu tak terulur. Kau tetap berdiri di tempatmu dan berharap akan datangnya sebuah keajaiban yang bisa menyatukan kita.
Ditempat lain, dia datang padaku menawarkan genggaman tangan yang tak pernah dilepaskan, menawarkan hati yang tak terbagi. Baginya cinta adalah pemberian yang harus diperjuangkan agar tumbuh dan berkembang.
Aku terdiam dalam kebimbangan.
Kaki harus terus dilangkahkan bila tak ingin hidup berhenti disini. Menentukan arah dalam sejuta kebimbangan, waktu terus berjalan dan tak mau menunggu lagi. Akhirnya hidup harus memilih satu jalan. Satu jalan saja. Jalan yang terbaik adalah jalan yang tidak menimbulkan luka. Hingga senyum kembali merekah dan dunia menjadi terang benderang dalam cahaya cinta. Selamat datang kembali dalam kehidupan nyata. Saling menguatkan dalam genggaman erat tak terlepaskan.
("aku hanyalah obyek atas cinta, dan menjalaninya dengan penuh syukur"_Rey)
Karena KIta Terlalu Berbeda
BalasHapusWaktu mengubah kita, dan jarak di antara kita.
Mungkin juga mengubah rasa.
Seringkali, prasangka hadir lebih dulu dari apa yang kita tangkap disesuaikan dengan perspektif masing-masing kita. Hingga akhirnya mengendap menjadi perasaan yang menyesakkan karena tak adanya konfirmasi. Seperti ketika kamu mengatakan membenciku di saat aku menyayangimu. Seperti ketika kamu berkata menyayangiku dengan caramu yang aku tangkap itu sebagai sebuah perasaan tak nyaman dan kebencian. Aku hanya tidak mengerti. Dan kali ini, lagi.
Aku mengatakan pencapaian ini belum menjadi sesuatu yang membanggakan karena aku tidak melakukan apa-apa dan tidak menjalani proses apa-apa selain memberi apa yang dia minta. Dan kamu menangkapnya aku tidak bangga dengan hal itu yang ternyata juga mimpimu. Ketika aku berusaha merendah karena di mata banyak orang hal ini masih sangat diremehkan, kamu menangkapnya sebagai aku yang menyakiti perasaanmu. Aku minta maaf yang tidak mengetahui apa-apa tentang kamu. Pun kamu, juga tidak tahu banyak tentang aku.
Seperti ketika dulu kamu mengatakan aku tidak pernah berjuang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk memenuhi keinginan pribadi. Seperti ketika kamu mengatakan aku tidak pernah harus berjuang keras untuk menggapai mimpi. Kamu hanya tidak tahu karena memang aku tidak pernah memberi tahu siapa-siapa, kecuali lewat tulisan yang masih begitu samar.
Kita hanya terlalu berbeda dalam menangkap makna. Persis seperti kamu yang mungkin beberapa kali merasa iri kepadaku, aku pun merasa sama persis ketika melihatmu. KIta hanya tidak saling tahu. Dan keras kepala mempertahankan pandangan dan ego masing-masing.
Meski bagaimanapun, aku masih senang berteman dekat denganmu. Entah bagaimanapun pikiranmu tentang aku.