Jumat, 06 April 2012

Candidasa, Suatu Sore Tentangmu


Waktuku tinggal setengah jam untuk berkemas, tapi tak juga aku beranjak dari lantaiku yang dingin. Badanku masih terasa meriang, mungkin tumpukan rasa lelah,  over exhausted katamu. Entah apa artinya. Sebenarnya, kalau bukan karena nama pantai itu yang begitu menggelitik memanggil-manggil jiwaku, mungkin aku memilih membatalkan janji kita hari ini. Pengen tidur saja. Kuambil sebutir pain killer dan sebotol vitamin C, mudah-mudahan bisa mendongkrak staminaku hari ini. Harus berangkat kesana. Harus.
Aku tidak tahu pasti kenapa aku sangat ingin kesana. Mungkin berawal dari 25 tahun yang lalu, ketika masih seusia anakku, membaca di sebuah majalah cerpen pinjaman dari Miming tanteku, entah apa judulnya, ceritanyapun aku sudah tak ingat lagi. Hanya nama Candidasa itu begitu kuat melekat di otakku, entah kenapa. Aku harus kesana. 

Ketika waktu menunjukkan tengah hari, kami berangkat. Melewati beberapa banjar yang tengah sibuk mempersiapkan sebuah upacara, aku baru teringat, hari ini purnama, umat Hindu mempersiapkan berbagai macam upacara sembahyang. Melewati para ibu yang menyunggi berbagai macam sesaji, bapak-bapak terlihat juga sibuk, ada yang menuntun babi, mungkin akan disembelih untuk membuat babi guling yang khas disini. (hehehe, babi sepertinya gak disembelih ya..)

Agenda agak di ubah, karena masih terlalu siang, kami ke obyek wisata lain dulu. Baru sekitar jam lima sore, kami parkir di pinggir Pantai Candidasa. Tak banyak pengunjung, tak ada bule disini, good! kataku. Ini pantaiku.

"Akhirnya aku disini!!". Pantai yang hidup dalam benakku berpuluh tahun lamanya ada di depan mataku. Bukan pantai pasir putih seperti kebanyakan pantai yang dijadikan obyek wisata, bukan pula tempat wisata andalan yang dipenuhi tourist, sekilas sangatlah biasa saja. Bergegas aku berjalan,menuju bibir pantai. Duduk di sebongkah batu disini dan menghamparkan pandanganku ke ceruk pantai sebelah timur, ada dua tempat semacam gubuk , lalu lebih ke timur lagi ada dua tiga gugusan batu karang, menambah keindahan Candidasa di mataku, semua penjuru terasa harmonis,  kokoh, indah, sepi dan damai. Aku  jatuh cinta pada pantai ini. 

Candidasa, begitu kuat perasaan ini terikat pada pantai ini, satu romantisme menyelusup ke sela-sela hatiku, aku tak tahu sebabnya, mungkin suatu saat nanti aku akan tahu. Yang jelas akan ada satu kisah yang aku pahatkan di bongkahan batu-batu pantai. Tunggu aku Candidasa, aku akan datang lagi dengan kisah indahku.

2 komentar:

  1. karena pergi kesana sama aku jadi lebih bermakna :)
    xixixixixi pede bangettt yaaahh akuu :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa Ega,,, lebih bermakna lagi bila bebebmu itu kasihin fotonya ke aku,,, wkwkwkwwk

      Hapus