Mari kita membayangkan bagaimana rasanya berjalan ke suatu tempat yang jauh, tanpa berhenti untuk beristirahat. Tanpa membawa bekal, tanpa membuat rencana-rencana dimana saja kita akan singgah selama perjalanan kita. Dan tanpa membawa peta peta perjalanan yang sesekali bisa kita tilik sebagai panduan.
Ditambah lagi, kita tidak dapat berkomunikasi dengan baik dan menyenangkan dengan teman seperjalanan kita. Pasti kita akan merasa jenuh, lelah dan segala perasaan tak nyaman lainnya. Akibatnya, bisa saja kita sampai ke tujuan meskipun dengan sisa tenaga dan kelelahan psikis yang luar biasa. Atau bisa juga, kita gagal dalam perjalanan tersebut dan berhenti di tengah jalan, atau bahkan berbalik pulang.
Begitupun dengan pernikahan. Pernikahan adalah perjalanan panjang dalam satu fase kehidupan seseorang. Bisa jadi sebuah perjalanan yang menyenangkan, ditempuh dengan penuh gairah, penuh rencana-rencana sehingga setiap tapaknya menjadi pemicu menuju tujuan akhir pernikahan itu sendiri. Setiap halangan dilakoni dengan penuh kerelaan. Sebab kita dan teman seperjalanan menempuh cita-cita dan keyakinan yang sama. Namun bisa juga pernikahan bisa jadi sebuah perjalanan yang membosankan, menurunnya potensi diri dan bahkan kehilangan jatidiri/karakter seseorang demi memuaskan salahsatu pasangan. Bila tetap dibiarkan hal itu akan menjadi bola salju yang menggelinding semakin besar, menjadikan pernikahan hanya sebuah hubungan hampa dua manusia. Betapa menyedihkan.
Kita dan pasangan adalah lakon dari perjalanan panjang bernama pernikahan yang telah kita sepakati untuk dijalani. Biduk yang telah kita tumpangi bersama itu akan berlabuh di samudra kehidupan yang penuh riak ombak, gelombang maupun badai. Pernikahan perlu disapa, nakhoda dan seluruh awaknya perlu mengevaluasi mana yang perlu diperbaiki, mengkomunikasikan semua yang dapa menghambat lajunya perjalanan. Dan yang paling penting jangan sampai ada awak kapal yang melubangi kapal sehingga kapal akan tenggelam.
Itu semua hanyalah perumpamaan, pengandaian-pengandaian, apabila berguna untuk hidup boleh digunakan, namun bila tidak, lupakan saja. Kita semua masih akan terus belajar dan belajar tentang melewati hidup ini menuju satu tujuan yang lebih baik. Salam.
(sumber : Bukan Sepasang Malaikat, Robiyah Al Adawiyah, penerbit : Afra Sakina, 2011)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar